Bulletin HIJAU Edisi 1
Media Informasi Petungsewu Wildlife Education Center
Daftar Isi
- Asyiknya Mencari Bentos di Sungai Bedengan
- Introduksi Dapat Menyebabkan Kepunahan Satwa
- Pelatihan Konservasi Satwa Liar
- Raka-Raki Jawa Timur Mengadakan Kegiatan di P-WEC
Asyiknya Mencari Bentos di Sungai Bedengan
Pada tanggal 18-19 Maret 2007 P-WEC dikunjungi oleh 2 rombongan pengunjung, yang pertama adalah kunjungan Raka-Raki Jawa Timur dan yang kedua adalah kunjungan dari PPAIO 865. Jika Raka-Raki Jawa
Timur mengadakan meeting, siswa PPAIO 865 Malang mengadakan kegiatan edukasi dan outbound. Adapun edukasi yang dilakukan adalah pengamatan serangga malam (nocturnal), pengamatan serangga siang (diurnal) dan melakukan pengamatan hewan air di Sungai Bedengan.
Acara yang dikemas dengan metode learning by doing dan experiential learning ini sangat diminati oleh para siswa yang rata-rata duduk di bangku SMP, SMA dan beberapa mahasiswa. Sebelum melakukan pengamatan peserta diberikan beberapa materi mengenai serangga malam dan siang, kemudian peserta langsung melakukan praktek ke lapangan untuk melakukan pengamatan serangga malam dengan peralatan yang sudah disiapkan oleh P-WEC.
Keesokan paginya setelah makan pagi peserta diantar menuju Bedengan untuk melakukan pengamatan serangga siang dan pengamatan hewan air di sungai. Ketika sampai di Bedengan beberapa peserta langsung bermain air di sungai. Permainan pertama dimulai dengan pengamatan serangga siang setelah segala perlengkapan disiapkan seperti jaring serangga, lup, tabel pengamatan, dan peserta siap dengan peralatan tulis. Dan permainan yang kedua adalah mencari hewan air. Pengamatan ini sangat disenangi oleh peserta karena selain belajar mereka juga dapat bermain air di sungai. Hewan air yang diamati antara lain bentos dan anggang-anggang.
Sungai bersih merupakan salah satu fasilitas yang dapat kita nikmati ketika melakukan kegiatan edukasi di Bedengan, selain dapat mengamati berbagai jenis serangga yang terbang bebas bermain di rerumputan.
Introduksi Dapat Menyebabkan Kepunahan Satwa
Introduksi satwa ternyata bisa menjadi penyebab kepunahan satwa. Nah yang dimaksud dengan introduksi satwa adalah memasukkan suatu jenis satwa ke suatu daerah, yang mana di daerah tersebut sebelumnya tidak ada jenis satwa atau dengan kata lain satwa bukan asli daerah tersebut.
Di zaman sekarang banyak satwa yang diintroduksi, baik sengaja maupun tidak ke daerah-daerah yang bukan tepat aslinya. Introduksi yang tidak sengaja contohnya lewat pengangkutan, misalnya ada kapal yang mengangkut beras dari daerah A yang tanpa sengaja dalam tumpukan karung terangkut tikus dari daerah A. Ketika beras tersebut diturunkan ke daerah B maka mungkin saja tikus-tikus tersebut terbawa dan akhirnya berkembang biak di daerah B.
Introduksi satwa secara sengaja lebih banyak dilakukan oleh manusia. Pada tahun 1820, kelinci dimasukkan ke Australia, dan mereka berkembang biak dengan pesat karena mereka tidak mempunyai musuh alami. Akibatnya pertanian di Australia jadi rusak karena dimakan oleh kelinci-kelinci tersebut. Maka untuk mengurangi jumlah kelinci-kelinci tersebut didatangkanlah rubah, ternyata hal ini malah menimbulkan masalah baru, yaitu sang rubah malas menangkap kelinci yang gesit malah mereka lebih suka menangkap hewan berkantung yang terdapat di Australia.
Dan akhirnya tahun 1965 populasi hewan berkantung semakin menurun. Oleh karena itu manusia tidak boleh dengan seenaknya sendiri mengintroduksi satwa karena akan menimbulkan hal yang fatal bagi keberlangsungan kehidupan. Dan proses pengintroduksian satwa memerlukan pertimbangan yang sangat ilmiah. So jangan coba – coba melakukannya atau kita yang akan memakan getahnya.
(Sumber “mengapa satwa liar punah”Penerbit Profauna)
Pelatihan Konservasi Satwa Liar
Minggu, 25 Februari 2007 P-WEC (Petungsewu Willdlife Education Center) mengadakan Pelatihan Konservasi Satwa Liar. Pada pelatihan konservasi ini ada dua materi yang diberikan. Materi pertama adalah tentang Konservasi Satwa Lia