Bulletin HIJAU Edisi 2
Media Informasi Petungsewu Wildlife Education Center
Daftar Isi
- Belajar dan Bermain Bersama Anggota Fauna Club SMA PGRI I Tuban
- Sriganti, Si Kecil yang Cantik
- Edukasi Satu Hari SD Kauman 1 Malang
- "Five of Freedom" Untuk Kesejahteraan Satwa
- Meeting di P-WEC: serius, santai dan kembali ke alam
- Makin Sering, Makin Cinta Sama P-WEC
Belajar dan Bermain Bersama Anggota Fauna Club SMA PGRI I Tuban
Tanggal 1 April 2007, menjadi tanggal istimewa di P-WEC. Karena pada hari itu, sekitar 92 orang siswa anggota Fauna Club belajar secara informal dengan metode pelajaran learning by doing atau experiential learning. Waktu memasuki pukul 10.00 WIB, saat para siswa siswi anggota Fauna Club mulai menapakkan kaki di tangga terakhir Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC) pagi itu, lebih dari 100 orang dengan semangat mulai memasuki Balai pertemuan “Kijang” yang saat itu sudah dipersiapkan. Kegiatan yang diawali pada pukul 04.00 WIB yaitu berangkat menuju ke Malang dari Tuban Jawa Timur tidak membuat semangat mereka kendor. Dengan wajah – wajah berseri mereka mulai mengikuti serangkaian kegiatan yang telah disusun fasilitator P-WEC.
Pengenalan ProFauna dan P-WEC merupakan agenda awal yang menjawab semua pertanyaan mereka tentang tempat apa sebenarnya yang sedang mereka kunjungi ini.
Di P-WEC mereka belajar bagaimana melakukan pengamatan burung dan mengidentifikasi beberapa jenis burung dengan menggunakan binokuler (teropong) dan field guide yang telah disiapkan oleh P-WEC. Tidak itu saja, belajar menjadi kegiatan yang menarik karena tim P-WEC sudah mengemas kegiatan mereka secara fun dan penuh dengan petualangan. Oleh sebab itu mereka tidak memperdulikan gerimis yang datang tak diundang, saat sore itu permainan kelelawar dan ngengat mulai digelar.
Dari permainan itu mereka bisa mengilhami bagaimana bentuk adaptasi kelelawar pada saat mencari mangsanya yang berupa ngengat – ngengat yang berterbangan dimalam hari. Tidak itu saja, mereka bahkan memahami dengan baik bagaimana serangga berkamuflase dan bermuslihat dengan permainan kamuflase, peringatan dan muslihat. Suasana bertambah ramai saat para siswa belajar tentang bagaimana sebuah habitat hilang dan satwa kehilangan habitat tempat tinggal mereka melalui permainan kehilangan habitat.
Sehari memang tak cukup untuk memahami tentang dunia perlindungan satwa liar, namun kemauan dan semangat dari anggota Fauna Club SMA PGRI I Tuban untuk belajar yang begitu besar patut kita jadikan contoh. Terima kasih untuk kunjungan yang menyenangkan. Dan kami tunggu kunjungan berikutnya.
Sriganti, Si Kecil yang Cantik
Sore itu saya, Ibu Sri dan Hery duduk di depan IC (Information Center. red), sambil berbincang mengisi waktu luang karena pekerjaan kami telah selesai. Kami mengamati burung-burung yang hinggap di pohon disekitar tempat kami bercakap-cakap. Disekitar P-WEC terdapat banyak macam burung dan jenis burung di P-WEC berkisar 85 jenis. Sore itu saya melihat ada burung yang hinggap di pohon dadap merah, dan ternyata burung itu adalah Burung Madu Sriganti (Nectarinia jugularis).
Saya jadi ingin tahu lebih banyak tentang Burung Madu Sriganti ini. Kemudian saya membuka field guide tentang burung yang terdapat di perpustakaan P-WEC dan membawa binokuler atau teropong untuk mengintip kehidupan burung. Dan yang saya lihat Burung Madu Sriganti ini berukuran kecil 10 cm dan berperut kuning terang. Kebiasaan Burung Madu Sriganti ini adalah hidup dalam kelompok kecil dan berpindah dari satu pohon atau semak berbunga ke yang lainnya. Mereka hinggap di pohon yang berbunga untuk mengambil madu sebagai makanan. Kemudian saya mulai melihat keterangan lain untuk menambah wawasan dan pengetahuan dari field guide burung yang saya bawa.
Ada perbedaan antara jantan dan betina pada burung ini yaitu burung jantan, dagu dan dada berwarna hitam ungu metalik dan punggung memiliki warna hijau zaitun. Sedangkan yang betina tanpa warna hitam ungu metalik di bagian dada dan dagu, tapi tubuh bagian atas berwarna hijau zaitun, dan tubuh bagian bawah berwarna kuning, biasanya lebih condong berwarna kuning muda. Iris berwarna coklat tua, paruh dan kaki berwarna hitam. Burung madu ini bila mencari makan sering terlihat berpasangan. Berdasarkan petunjuk yang saya pelajari dari field guide, makanan burung ini adalah madu dan serbuk bunga, maka bentuk paruh Burung Madu Sriganti memanjang yang berguna untuk mencari makanan. Selain itu penyebarannya paling umum ditemukan di daerah dataran rendah terbuka, kadang-kadang sampai pada ketinggian 1.700 m. Kebanyakan burung ini mengunjungi pekarangan, semak pantai dan hutan mangrove.
Ada juga kebiasaan lain burung madu ini, yaitu suka mendatangi bunga Loranthus, Morinda, pohon pepaya dan lain-lain. Betapa indah hidup mereka yang bebas bergerak dan berekspresi, gumam saya dalam hati. Namun di sisi lain, saya juga mendengar bahwa ada beberapa orang yang memburu burung untuk dijual atau dijadikan kesenangan semata dengan memelihara burung dalam sangkar yang tentunya sangkar tersebut berukuran kecil sehingga membuat burung sulit bergerak dan mengepakkan sayapnya. Hati saya jadi pilu sekali. Berbeda ketika saya melihat burung-burung kecil yang terbang bebas disekitar saya dengan riangnya, yang berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain untuk mencari makan.
Hati saya berujar mengapa ada orang yang begitu tega merampas kebebasan burung. Tetapi kita tidak bisa secara membabi buta menyalahkan orang-orang itu. Mungkin mereka tidak mengetahui betapa nikmatnya melihat burung-burung terbang bebas di udara. Dan tugas kita adalah mengabarkan dan memberikan informasi bagi mereka yang belum memiliki kesadaran untuk melindungi satwa dan habitatnya.
Edukasi Satu Hari SD Kauman 1 Malang
Pada bulan mei suasana P-WEC begitu ceria dengan kunjungan dari murid-murid sekolah dasar yang datang untuk melakukan kegiatan edukasi satu hari. Dunia bermain merupakan salah satu dunia yang sangat di minati oleh anak-anak, oleh karena itu P-WEC telah menyiapkan beberapa permainan yang sesuai untuk usia pelajar sekolah dasar, dan tentunya permainan di P-WEC sarat akan nilai edukasi khususnya edukasi yang mengarah pada konservasi satwa liar dan habitatnya.
Seperti kegiatan edukasi yang dilakukan oleh SD Kauman I pada tanggal 12 mei dan SD Muhammadiyah IX pada tanggal 26 mei 2007. Para pendamping sekolah menginginkan siswa-siswinya untuk memupuk rasa kebersamaan antar siswa dan menanamkan kesadaran untuk cinta terhadap lingkungan sejak dini.
P-WEC dengan senang hati memberikan beberapa permainan kepada siswa-siswi sekolah dasar tersebut dengan metode pendekatan learning by doing dan experiential learning, adapun permainan yang diberikan kepada siswa kelas V SD Kauman I diantaranya: bertemu pohon, tree watching, kelelawar dan ngengat serta mendengar rintik hujan. Sedang permainan yang diberikan untuk murid kelas II SD Muhammadiyah IX antara lain: tanda-tanda satwa, kaki ulat, kancil, pemburu dan penebang serta kelelawar ngengat. Keseluruhan permainan tersebut dilakukan oleh siswa-siswi dengan penuh keceriaan dan tanpa mereka sadari bahwa mereka juga sedang belajar.
Di akhir permainan, fasilitator P-WEC akan mengajak para siswa untuk menceritakan pengalaman yang mereka dapat dan menarik kesimpulan dari permainan yang telah di mainkan, seperti pengalaman yang di rasakan Alice siswa SD Kauman I, yang saat itu tergabung dalam anggota kelompok monyet, ia cukup bersemangat ketika bermain dalam permainan ‘bertemu pohon’, yaitu permainan untuk mengenali pohon dengan mata tertutup. Alice yang dituntun oleh Aji berjalan menuju sebuah pohon di dekat Asrama Siamang, kemudian Alice harus berusaha mencari informasi tentang pohon tersebut sebanyak-banyaknya dengan cara meraba pohon untuk mengetahui tekstur kulit pohon, bentuk daun dan bau.
Pada awalnya Alice takut memegang pohon dengan mata tertutup karena ia takut bila menyentuh ulat bulu, namun Aji berupaya meyakinkan bahwa di pohon yang dipegang oleh Alice tidak terdapat hewan yang dimaksud. Akhirnya Alice mencoba meraba pohon dan mengenali bentuk daunnya. Dan setelah itu Aji membawa Alice kembali ke titik awal pemberangkatan. Setelah mata dibuka, Alice harus menunjuk pohon yang dimaksud. Betapa senangnya wajah Alice ketika ia dapat menunjuk pohon yang dimaksud secara tepat dan pada akhir permainan ia mencoba bercerita kepada fasilitator di hadapan teman-temannya yang lain.
Lain halnya dengan Abi salah seorang siswa kelas dua SD Muhammadiyah IX, ia paling suka melihat hewan-hewan kecil di pepohonan dengan menggunakan lup (kaca pembesar) dalam permainan tanda-tanda satwa, dan ia begitu asyik mengamati kepompong dan kemudian ia berseru “ kok ulat bisa jadi kepompong dan akhirnya jadi kupu-kupu yang cantik”, pertanyaan spontan tersebut cukup menarik dan tugas fasilitator yang akan menjelaskan kepada para siswa.
Itulah jenis-jenis permainan edukasi yang ada di P-WEC dan masih banyak lagi permainan edukasi lain yang lebih seru tentunya. Dengan bermain sambil belajar diharapkan para siswa-siswi dapat tumbuh kesadarannya untuk lebih mencintai lingkungan dan satwa.
Selain kegiatan edukasi, anak-anak taman kanak-kanak maupun sekolah dasar juga dapat juga berpetualang dalam bermain permainan outbound. P-WEC juga memiliki fasilitas outbound permanent selain untuk dewasa juga tersedia untuk anak-anak. Semoga liburan kita dapat lebih mengasikkan dengan kegiatan belajar dan bermain serta berpetualang di P-WEC.
“Five of Freedom” Untuk Kesejahteraan Satwa
Banyak sekali orang yang mengaku menjadi pecinta satwa atau Animal Lovers meski pada kenyataannya mereka memperlakukan satwa selayaknya “manusia”. Sehingga satwa dibiarkan mengerti dan mengaplikasikan beberapa kegiatan yang dilakukan manusia dan sangat bertentangan dengan kodrat mereka di alam bebas. Oleh sebab itu, sebagai pecinta satwa alangkah baiknya kita memahami sebuah konsep yang dinamakan dengan animal welfare atau dikenal dengan kesejahteraan satwa.
Animal welfaree diartikan sebagai “kesejahteraan satwa” adalah suatu usaha untuk memberikan kondisi lingkungan yang sesuai bagi satwa, sehingga berdampak pada peningkatan sistem psikologi dan fisiologi satwa. Pada kenyataannya animal welfare berbicara tentang kepedulian dan perlakuan manusia pada masing-masing satwa dalam meningkatkan kualitas hidup satwa secara individual. Seperti diketahui dalam beberapa hal lingkungan kandang sangat berbeda dengan lingkungan alami satwa. Lingkungan alami lebih dinamis dibandingkan dengan lingkungan kandang yang statis karena adanya keterbatasan sosial dan fisik. Faktor – faktor fisik tersebut seperti temperatur, kelembaban, bentuk dan tipe bangunan, kuantitas dan penyediaan makanan adalah tipikal yang sudah ditentukan untuk lingkungan kandang. Akibatnya lingkungan kandang seringkali memberikan rangsangan dan kesempatan yang kecil untuk memilih daripada lingkungan alami.
Jika dibandingkan dengan lingkungan di alam dengan ancaman predasi, penyakit dan malnutrisi selama periode kelangkaan makanan yang tidak dapat disangsikan akan membahayakan satwa di alam. Sementara pada lingkungan kandang adalah keamanan dalam penyediaan kebutuhan, tetapi kemungkinan yang monoton dalam usaha untuk mencapai keamanan tersebut.
Ada 5 hal yang perlu mendapat perhatian disaat kita memutuskan untuk memelihara satwa atau menganggap diri kita menjadi animal lovers sejati. Istilah five of freedom atau 5 kesejahteraan satwa akan menjadi acuan dan sebuah konsep untuk melakukan penilaian kondisi satwa yang terkurung.
5 hal tersebut yaitu :
- Freedom from hunger and thirst (bebas dari rasa lapar dan haus)
- Freedom from thermal and physical discomfort (bebas dari panas dan rasa tidak nyaman secara fisik)
- Freedom from injury, disease and pain (bebas dari luka, penyakit dan sakit)
- Freedom to express most normal pattern of behavior (bebas mengekspresikan perilaku normal dan alami)
- Freedom from fear and distresss (Bebas dari rasa takut dan penderitaan)
Dalam memelihara satwa, kita harus memperhatikan kondisi satwa apakah sudah bebas dari rasa lapar dan haus. Kondisi tersebut bisa diukur dengan memberikan pakan sesuai dengan species, musim dan kondisi satwa pada saat tertentu, memberi fasilitas yang memudahkan akses minum setiap saat serta pemberian pakan yang higienis. Namun fakta dilapangan menyebutkan bahwa seringkali satwa diberikan makanan sesuai dengan apa yang dimakan oleh pemiliknya. Pemenuhan kebutuhan akan shelter, areal istirahat serta fasilitas enrichment (pengkayaan) kandang yang memungkinkan satwa tetap bisa mengaplikasikan kebiasaan alaminya merupakan bagian yang tidak bisa dilewatkan untuk menghindarkan satwa dari panas dan rasa tidak nyaman secara fisik. Namun fakta dilapangan menunjukkan bahwa manusia seringkali menciptakan ketergantungan yang sangat tinggi dan membebaskan kontak dengan satwa yang dipeliharanya.
Merasa sayang dan peduli pada satwa? Baiknya Kita harus menerapkan five of freedom sebagai bentuk perwujudan kebijaksanaan manusia saat harus berdampingan dengan satwa atau hewan. Bila tidak, mengapa tidak membiarkan mereka bebas di alam bukan dalam kandang di rumah kita? (BQ. Erni Nurhidayati)
Meeting di P-WEC: serius, santai dan kembali ke alam
Ssstttttttttt... jangan berisik ada rapat di Balai Makan. Yup... Bulan April 2007, beberapa organisasi dan instansi masyarakat telah melakukan kegiatan rapat di P-WEC. Mereka yang mengadakan rapat diantaranya adalah Staff dan Karyawan Puskesmas Dinoyo Malang, Format (Forum Masyarakat Tanjung) yaitu gabungan beberapa LSM yang peduli dengan lingkungan, Balai Keswadayaan Masyarakat Tlogomas Malang, Team Dekorasi Paroki St. Albertus Malang dan meeting ProFauna Indonesia. Mereka mengadakan rapat dengan tujuan yang berbeda-beda. Selain itu mereka memilih lokasi yang berbeda pula. Ada yang mengadakan di Balai Pertemuan dengan alasan agar konsentrasi dalam rapat tetap terjaga, ada pula yang memilih Balai Makan dengan suasana yang setengah terbuka dan lebih santai sebagai tempat untuk rapat.
Meeting di P-WEC memberikan kesan tersendiri, begitu yang diungkapkan Ibu Yayuk saat membeli souvenir di Café Primata. Ibu Yayuk adalah salah satu peserta rapat dari Puskesmas Dinoyo Malang yang mengadakan rapat di Balai Makan. Beliau mengatakan, walaupun rapatnya serius tapi pikiran tetap tenang karena rapatnya di alam terbuka sehingga bisa menghirup udara segar serta dapat mendengar merdunya kicauan burung, pikiran fresh terus dan tidak mudah jenuh. Ada pula celetukan dari beberapa kawan Ibu Yayuk yang mengatakan makanan yang disediakan P-WEC sueger tenan (segar sekali .red), karena pada rapat mereka memesan sayur asam dengan minuman es jeruk untuk makan siang. Lain halnya dengan rapat yang dilakukan oleh Profauna Indonesia yang memilih Balai Pertemuan sebagai tempat untuk bertukar pikiran dengan alasan mereka membutuhkan ruang tertutup agar lebih konsentrasi dan fokus untuk melihat pemutaran film.
P-WEC dapat menjadi tempat alternatif untuk mengadakan rapat atau pertemuan-pertemuan penting lainnya karena ada beberapa tempat yang dapat digunakan. Bila ingin pertemuan di ruangan tertutup maka P-WEC akan menawarkan dua alternatif pilihan, yang pertama adalah Balai Pertemuan Kijang dengan kapasitas 200 orang atau di Balai Pertemuan Kancil dengan kapasitas 80 orang. Namun jika memilih ruangan yang terbuka sembari mendengarkan kicauan burung dan menghirup segarnya udara disekitar kita, maka pilihannya adalah di Balai Makan atau dibawah pohon chery di areal ½ lingkaran outbound.
Selain itu tersedia pula beberapa fasilitas penunjang seperti televisi, LCD, screen, sound system dan laptop. Dan bila ingin memesan makanan, P-WEC menyediakan berbagai macam menu traditional Jawa Timur yang dapat disuguhkan secara prasmanan atau bisa juga dengan memesan langsung makanan dan minuman yang ada di Cafe Primata. Dan yang penting, menu makanan yang disediakan P-WEC adalah bebas pewarna, perasa, pengawet serta penyedap buatan.
Makin Sering, Makin Cinta Sama P-WEC
Setelah memiliki jadwal rutin untuk belajar di P-WEC, Fauna Club SMA Lab Malang semakin sering datang untuk bermain dan belajar di P-WEC. Pada hari sabtu tanggal 21 April 2007, 19 orang siswa-siswi SMA Lab melakukan kegiatan Bird Watching
yaitu mengamati kehidupan burung yang ada di sekitar P-WEC. Kegiatan rutin ini merupakan kegiatan wajib dari sekolah yang diperuntukkan bagi siswa kelas I dan II yang mengikuti ektrakurikuler Fauna Club di setiap hari Sabtu, dan P-WEC dengan senang hati telah membuat jadwal rutin untuk mereka dengan berbagai materi tentang satwa liar dan habitatnya.
Seringnya mereka bermain dan belajar di P-WEC, ternyata tidak membuat mereka jenuh, menurut Hanif Owu yang biasa dipanggil Izenk, salah satu anggota Fauna Club SMA Lab yang selalu berdandan ala Punk ini mengatakan bahwa seringnya belajar mengenai satwa dan habitatnya di P-WEC sama sekali tidak membuatnya bosan, karena metode belajarnya yang berbeda dengan di sekolah, kalau di P-WEC kita bisa belajar sekaligus bermain dan berpetualang, apalagi fasilitatornya selalu membuat permainan yang berbeda-beda di setiap kunjungan kita.
Dan ditambahi pula oleh Nurul Betty bahwa setelah belajar di P-WEC dirinya semakin mencintai lingkungan dan peduli dengan kehidupan satwa liar, dan sambil tersenyum simpul perempuan berjilbab ini mengatakan yang membuatnya senang berkunjung ke P-WEC adalah karena Mbak dan Masnya (maksudnya fasilitator, red) sangat ramah dan menyenangkan. Selamat belajar untuk Fauna Club SMA Lab Malang, semoga nantinya kita bisa lebih menghargai alam.