Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC)

Bulletin HIJAU Edisi 3

Media Informasi Petungsewu Wildlife Education Center





Daftar Isi

Camping, Edukasi & Outbound SMP Ciputra

SMP Ciputra Surabaya telah dua kali melakukan kegiatan di P-WEC, dan untuk kegiatan kedua pada tanggal 3-7 September SMP Ciputra Surabaya mengajak siswa-siswinya sebanyak 70 orang untuk berpetualang dan belajar mengenai lingkungan di P-WEC. Paket yang mereka ambil yaitu camping, outbound dan edukasi. Untuk camping Ciputra memilih areal Bedengan dengan fasilitator dari tim P-WEC.

Peserta yang tergolong dari kalangan menegah keatas ini cukup terlatih dengan kegiatan lapangan ini. karena mulai dari pemasangan tenda, memasak, membersihkan tenda dan peralatan dapur menjadi kewajiban peserta. Ibu Darma, salah seorang guru yang menjadi panitia dari kegiatan ini mengatakan bahwa kegiatan ini adalah kegiatan rutin yang dilakukan SMP Ciputra dalam rangaka menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan serta melatih kemandirian siswanya.

Selain paket Outbound dan edukasi SMP Ciputra juga melakukan kegiatan sosialisasi ke masyrakat sekitar P-WEC serta Bedengan. Salah satu kegiatannya adalah pembuatan tong sampah organik dan non organik yang dilukis oleh siswa untuk diberikan ke SD Selorejo I dan II yang lokasinya berada di sekitar Bedengan. Selain itu siswa SMP Ciputra juga diberi kesempatan mengisi waktu pelajaran di SD Selorejo I dan II. Semoga yang dilakukan para peserta dapat bermanfaat di kemudian hari.

Mahasiswa dari 10 negara ASEAN belajar konservasi satwa liar di P-WEC

Sebanyak 12 orang mahasiswa dari 10 negara ASEAN belajar dan mencari pengalaman praktis tentang konservasi satwa liar dan habitatnya di Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC), Malang, pada tanggal 8 hingga 11 Agustus 2007. Para mahasiswa selain dari Indonesia, juga berasal dari Brunai, Singapura, Philipina, Malaysia, Vietnam, Thailand, Laos, Myanmar dan Kamboja. Selama 4 hari para mahasiswa pilihan tersebut akan menggali pengalaman tentang koservasi satwa liar di P-WEC dan juga Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Petungsewu.

Program para mahasiswa dari negara-negara ASEAN tersebut merupakan kerja sama antara Fakultas Sosial Politik Jurusan Hubungan Internasional Universitas Indonesia dan P-WEC untuk mendorong kerja sama pemuda ASEAN di berbagai isu yang ada di Asia, salah satunya adalah isu konservasi satwa liar dan habitatnya. Program yang mendapat dukungan dari Asia Foundation ini diikuti mahasiswa dengan latar belakang pendidikan yang berbeda, antara lain biologi, kehutanan, ekonomi, fisip dan hukum.

Selama berada di P-WEC, mereka bukan hanya berdiskusi tentang permasalahan pelestarian satwa liar di Asia, namun juga akan terjun langsung untuk mengenal perawatan satwa yang ada di PPS Petungsewu. Pada tanggal 9 Agustus para mahasiswa tersebut akan turut memberi makan satwa di PPS Petungsewu. Beberapa satwa tersebut rencananya akan dilepas ke alam pada akhir Agustus tahun ini.

Selain praktek langsung di PPS Petungsewu, mereka juga diajak untuk berkunjung ke sekolah dan kelompok mahasiswa diMalang untuk berbagai pengalaman. Mereka juga akan berkunjung ke gunungBromo untuk melihat langsung salah satu kekayaan alam Indonesia,sekaligus melihat kondisi nyata hutan yang ada di Taman Nasional Bromo Tengger semeru.

Sri Wahyuni, project manager P-WEC mengatakan, ”program mahasiswa dari negara-negara Asean ini diharapkan akan merangsang generasi muda di negara Asean untuk lebih peduli terhadap masalah lingkungan dan kedepannya bisa merintis sebuah kerja sama untuk melakukan sebuah aksi bersama untuk berbuat bagi kelestarian lingkungan, khususnya satwa liar dan hutan”. Program ini juga bisa menjadi ajang untuk mempromosikan potensi wisata alam di Indonesia, khususnya Jawa Timur.

Siamang si Tangan Panjang

Siamang terdiri dari 2 anak jenis. Hylobates syndactylus syndactylus ditemukan hampir diseluruh daratan Sumatera sedang Hylobates continentis dijumpai di semenanjung Malaya. Umumnya siamang berukuran lebih besar dibanding keluarga Hylobatidae lainnya. Rentangan tangan mencapai ukuran 1,5m dengan panjang tubuh berkisar antara 800-900mm.Berat tubuh rata-rata hewan dewasa sekitar 11,2kg. Tubuh ditumbuhi rambut yang berwarna hitam pekat, kecuali rambut muka yang berwarna kecoklatan. Pada saat bersuara kantong udara pada leher terlihat mengelembung. Jari kedua dan ketiga pada tangannya disatukan oleh semacam selaput kulit.

Siamang menempati hutan tropik primer maupun sekunder, mulai dari hutan dataran rendah sampai hutan perbukitan hingga ketinggian 3800meter. Siamang hampir memakan semua bagian tumbuhan seperti daun,buah,biji dan bunga. Selain itu, satwa ini juga mengkonsumsi beberapa jenis serangga. Komposisi makanannya adalah 59% daun,31% buah, 8% bunga dan 3% berbagai jenis serangga dan juga di kenal sebagai penyebar biji-bijian (seed dispersal), beberapa jenis tumbuhan ficus.

Siamang bersifat monogami, hidup dengan pasangan jantan dan betina tetap, serta diikuti oleh beberapa anak yang belum dapat mandiri. Keluarga siamang membentuk kelompok dengan keluarga lain. Jumlah anggota kelompok ini mencapai 2-10 individu. Masa hamil primata ini berkisar antara 200-210 hari, jarak kelahiran anak yang satu dengan yang lain 3-4 tahun, dan dapat bertahan hidup sampai 35 tahun.

Jantan siamang ikut merawat dan mengendong anaknya, perilaku ini sangat jarang diperlihatkan anggota keluarga Hylobatidae, atau bahkan primata umumnya. Biasanya jantan ikut menggendong anaknya yang telah berumr 8 bulan. Jantan mengendong pada siang hari dan anak diberikan kepada betina pasangannya bila akan menyusu pada saat akan tidur.

Aktivitas siamang sebagian besar waktunya dihabiskan di atas pohon (arboreal), pergerakan dari dahan ke dahan dengan cara bergantungan (berankiasi). Pergerakan setiap harinya dapat mencapai 1 kilometer, sedang luas daerah tertorialnya sekitar 47 ha. Siamang aktif pada siang hari (diurnal), pada petang dan malam hari tidur pada percabangan pohon. Umumnya mereka tidur berkelompok, dan setiap pasangan saling berdekatan.

Keunikan dari siamang adalah memiliki kantong suara yang memungkinkan untuk bersuara keras. Suaranya biasa dikeluarkan bersama-sama, atau saling bersahutan antara jantan dan betina pasangannya.

Di alam status populasi siamang sangat genting, artinya dikhawatirkan satwa ini akan punah jika tidak dilakukan upaya pelestarian, terutama perlindungan habitatnya. Siamang telah kehilangan 66% habitat aslinya,yang semula seluas 340.000 km2 kini menjadi tinggal 120.000 km2. selain kehilangan habitat, satwa unik ini juga menghadapi ancaman perburuan untuk dijadikan hewan peliharaan. Jumlah siamang di alam diperkirakan sekitar 31.000 ekor mendiami areal seluas 20.000km2 dari habitat yang tersisa. Untuk melindunginya pemerintah Indonesia telah mengeluarkan beberapa peraturan dan undang-undang, yaitu SK Menteri Pertanian 14 Februari 1973 No.66/Kpts/um/2/1973,SK Menteri Kehutanan 10 Juni1991 No.301/Kpts-II/1991, dan diperkuat dengan UU No.5 tahun1990.

Saat ini siamang dapat anda temukan diberbagai taman nasional di Sumatera, mulai dari daerah lampung di selatan, seperti Bukit Barisan Selatan dan Way kambas, sampai ke utara di Gunung Leuser.

Balai Diklat Pemkab Malang Bergoyang Elvis

Kegiatan outbound high ropes di P-WEC bukan hanya milik anak-anak saja, namun orang dewasapun dapat melakukannya. Pada tanggal 07 Agustus 2007, P-WEC kedatangan tamu dari Balai Diklat Pemerintah Kabupaten Malang untuk melakukan outbound ½ high ropes. Peserta tampak begitu serius ketika salah seorang fasilitator P-WEC menjelaskan satu-persatu alat yang akan digunakan, dikarenakan permainan ini memiliki resiko yang cukup tinggi, peserta diharuskan menyimak setiap peraturan yang ditetapkan oleh P-WEC, salah satunya adalah tidak boleh merokok ketika sedang menggunakan alat. Dan peserta ternyata cukup paham dengan peraturan tersebut demi keselamatan bersama, selama kegiatan peserta tampak tertib dan bermain dengan cerianya.

Permainan yang disuguhkan P-WEC untuk peserta yang rata-rata berusia diatas 30 tahun ini adalah Tangga Monyet, Jaring Kombinasi, Elvis Line, dan Flying Fox. Hampir seluruh peserta mampu menyelesaikan permainan hanya 3 orang saja dari 50 peserta yang tidak dapat melanjutkan permainan dan akhirnya fasilitator melakukan rescue untuk peserta tersebut.

Awal bermain di areal tangga monyet peserta masih tampak tersenyum, dan bercanda, namun ketika mulai menapaki Jaring Kombinasi nafas peserta sudah mulai terengah-engah, dan yang paling dinanti oleh peserta adalah berjalan di Elvis Line, beberapa peserta nampak takut untuk memulai, namun dengan dorongan dari fasilitator dan semangat dari kawan-kawan yang lain membuat peserta semakin berani utuk melangkah walaupun dengan kaki bergoyang seperti Elvis Presley.

Ibu Made koordinator dari Balai Diklat Pemkab Malang, mengatakan sangat menyukai permainan high ropes di P-WEC, karena dapat melatih rasa keberanian. Selain dari Balai Diklat Pemkab Malang, kegiatan outbound juga dilakukan oleh beberapa lembaga yaitu Prodia Surabaya pada tanggal 11 Agustus 2007, Prodia Surabaya merupakan salah satu langganan P-WEC, karena Prodia telah beberapa kali melakukan kegiatan

high ropes di P-WEC. Lain lagi dengan Primagama Probolinggo yang mengadakan kegiatan outbound ½ high ropes pada tanggal 26 agustus 2007, acara outbound ini selain diikuti oleh orang dewasa juga diikuti pula oleh anak-anak.

Kegiatan outbound high ropes di P-WEC sangatlah mengasikkan dan tentu saja keamanan pengunjung sangat terjamin, asalkan pengunjung mematuhi peraturan yang berlaku selama permainan. Anda berani mencoba, silahkan datang saja ke P-WEC. (staff outbound)

Pelatihan Jurnalistik Lingkungan untuk Pelajar SMU

Pelajar SMU se Jawa Timur yang berjumlah 26 orang, terlihat antusias menulis berita tentang lingkungan di P-WEC pada hari minggu tanggal 02 September 2007. Para pelajar yang berasal dari beberapa sekolah di daerah Jawa Timur tersebut terlihat cukup serius menulis berita tentang kondisi lingkungan, yang pada saat itu mengangkat tentang kondisi lingkungan di Desa Sumber Bendo. Keseriusan para peserta tersebut di karenakan pada hari itu mereka sedang mengikuti Pelatihan Jurnalistik Lingkungan yang bertemakan Lingkungan di Atas Tinta yang diselenggarakan oleh P-WEC.

Acara yang dimulai pukul 08.30 ini bertujuan untuk membangkitkan semangat pelajar untuk ikut melestarikan lingkungan terutama satwa liar dan habitatnya melalui media tulisan. Dengan harapan adalah segala materi yang diserap selama pelatihan dapat dikembangkan di sekolah, contohnya dengan menulis berita mengenai lingkungan di majalah sekolah atau mading. Sehingga kabar mengenai lingkungan akan terus bergulir di lingkungan pelajar, tentunya dengan harapan besar adalah pelajar tergerak untuk meningkatkan kesadaran untuk melestarikan lingkungan.

Pemateri dalam pelatihan ini adalah Bibin Bintariadi salah satu wartawan dari majalah Tempo. Dalam pelatihan ini mas Bibin (panggilan akrab Bibin Bintariadi,red) memberikan materi mengenai jurnalistik umum, jurnalistik lingkungan serta praktek menulis sesuai kaidah jurnalistik. Dalam sesi praktek menulis, para peserta di beri kesempatan untuk menyimak cerita mengenai kondisi lingkungan di Desa Sumber Bendo dalam kurun waktu 20 tahun terakhir yang dipaparkan oleh Misdi, 40 tahun, salah seorang warga desa Sumber Bendo. Peserta selayaknya pemburu berita, di berikan pula kesempatan untuk mengajukan pertanyaan yang dapat mempertegas dan memperkuat berita yang akan mereka tulis.

Setelah mendapat banyak mendapat informasi mengenai Desa Sumber Bendo peserta diajak oleh fasilitator P-WEC untuk mengintip keberadaan Desa Sumber Bendo melalui menara pantau yang terdapat di Balai Kijang P-WEC. Kemudian para peserta diberi waktu ½ jam untuk menulis berita yang mereka dapat mengenai kondisi lingkungan Desa Sumber Bendo dalam 20 tahun terakhir. Dan tentunya tulisan terbaik akan mendapat merchandise menarik dari P-WEC.

Ganendra Awang Kristandya salah seorang peserta yang berasal dari SMAN I Pagak mengaku sangat senang sekali mengikuti pelatihan ini, selain menambah ilmu pengetahuan, juga dapat memupuk kesadaran akan pentingnya menghargai lingkungan dengan memulainya dari diri sendiri. Lain halnya dengan Adynoor Rieza siswa SMAN I Batu yang tulisannya mendapat predikat sebagai tulisan terbaik sesuai kaidah jurnalistik, mengaku akan berupaya mengembangkan bakat menulisnya dengan memperbanyak mengirim tulisan mengenai lingkungan ke berbagai media massa. Semoga ilmu yang didapat dapat bermanfaat.