Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC)

Bulletin HIJAU Edisi 4

Media Informasi Petungsewu Wildlife Education Center





Daftar Isi

Pemanasan Global dan Peubahan Iklim

Planet bumi tengah berada di tengah berada di tengah perubahan iklim, yang membawa dampak berupa bencana-bencana besar yang akan membawa dampak buruk bagi setiap mahluk ciptaan Tuhan yang berada di muka bumi, kecuali bila kita kita mampu melakukan tindakan-tindakan drastis untuk mengembalikan keadaan. Suhu bumi secara global telah meningkat dua kali lipat lebih cepat dalam waktu 50 tahun terakhir sejak akhir abad lampau dan di perkirakan akan meningkat lebih cepat pada dua dekade yang akan datang. Dalam kaitan itu pula, 11 tahun dari 12 terakhir (1995-2006) telah menjadi tahun-tahun yang paling panas yang pernah tercatat sejak temperature permukaan bumi secara global mulai dicatat dan diketahui pada tahun 1850. Hal ini menyebabkan perubahan pola cuaca, berkali-kali kerusakan lingkungan terjadi yang menghancurkan kehidupan umat manusia khususnya bagi mereka yang hidup dalam kemiskinan dan mengantungkan hidup pada pertanian.

Dampak perubahan iklim berbeda-beda menurut region namun secara universal membawa dampak yang sangat merugikan bagi miliaran umat manusia. Suhu panas yang eksterm semakin sering terjadi, pola-pola hujan lebat dan badai tropis, topan dan angin ribut yang secara khusus membawa dampak yang menghancurkan. Afrika contohnya saat ini menghadapi musim tanam yang semakin pendek, yang menyebabkan berkurangnya hasil panen, serta berkurangnya daerah untuk pertanian.

Produksi pertanian dan akses terhadap pangan semakin sulit untuk di pertahankan dan umat manusiapun dihadapkan pada ancaman kelangkaan air bersih yang semakin tidak tertanggulangi. Asia menghadapi jatuhnya hasil panen, meningkatnya kelaparan, banjir, longsor dan pergeseran permukaan tanah, serta berkurangnya cadangan air. Banjir dan kekeringan akan mendorong meningkatnya berbagai jenis penyakit yang berujung pada kematian.

Amerika Latin saat inipun mengalami persoalan akibat melemahnya ketahanan pangan dikarenakan semakin buruknya kualitas dari hasil pertanian dan semakin lemahnya produksi bahan-bahan pokok. Suhu yang semakin tinggi, hilangnya sumber air bawah tanah, dan hancurnya keanekaragaman di hutan tropis akan membawa dampak terhadap hancurnya kehidupan masyarakat. Di seluruh dunia meningkatnya tingkat permukaan air laut akan menenggelamkan wilayah pesisir dan daratan rendah, serta meningkatnya ancaman badai petir yang mengancam rumah-rumah serta kehidupan masyarakat pesisir, meningkatnya suhu air laut juga turut berdampak pada menipisnya cadangan ikan.

Pemanasan global adalah gejala yang didorong oleh meningkatnya produksi emisi (buangan) gas rumah kaca, khususnya gas karbondioksida (CO2) dan juga metan dan nitrousoksida ke atmosfer. Peningkatan gas rumah kaca paling membahayakan disebabkan oleh buangan CO2 yang diakibatkan oleh tingginya pembakaran bahan bakar, dan sarana transportasi. Kapasitas planet bumi untuk memproses buangan ini telah mengalami pelemahan luar biasa akibat meluasnya dan semakin hancurnya hutan di seluruh dunia.

Sebagai hasilnya, konsentrasi gas rumah kaca berupa buangan CO2 saat ini berada di atas ambang batas alami yang berlangsung selama kurang lebih 650.000 tahun belakangan. Konsentrasi metan dan nitrousoksida pun mengalami peningkatan secara dramatis dibandingkan dengan masa sebelum industri. Sekali lagi peningkatan suhu merupakan akibat dari aktivitas manusia khususnya eksploitasi hutan dan penggunaan bahan bakar secara berlebihan.

IPetugas BKSDA Jatim Berlatih tentang Animal Welfare

Indonesian Society for Animal Welfare (ISAW) menggelar workshop di P-WEC. Sebuah workshop yang mengundang lebih dari seratus orang petugas BKSDA Jatim dan Polisi Kehutanan ini membahas tentang standardd kesejahteraan satwa di dalam kandang. ISAW yang dimotori oleh drh. BQ. Erni ini berpendapat bahwa satwa-satwa dalam kandang di berbagai lembaga konservasi di Indonesia belum memenuhi standard kesejahteraan satwa yang semestinya.

Melalui workshop ini ISAW berupaya untuk meningkatkan pemahaman petugas BKSDA dan Polisi Kehutanan seperti apa standard kesejahteraan satwa yang seharusnya. Pengetahuan tentang standard kesejahteraan satwa ini menjadi ilmu yang penting untuk dikuasai oleh petugas BKSDA dan Polisi Kehutanan mengingat mereka memiliki peran penting dalam upaya konservasi satwa baik insitu maupun exsitu. Dengan demikian diharapkan BKSDA dapat menilai secara mandiri lembaga konservasi mana yang memelihara satwanya belum sesuai dengan standard kesejahteraan satwa. Dan kemudian menindak tegas tentunya.

Workshop yang didanai oleh sejumlah organisasi internasional yaitu WSPA, HSI dan Born Free ini menghadirkan sejumlah pembicara yang profesional. Sebutlah Direktur Lembaga Advokasi Satwa (LASA) Irma Hermawati yang mengulas tentang dasar hukum pembentukan lembaga konservasi dan macam-macamnya (mis. kebun binatang, red). Selain itu hadir pula sebagai pembicara Wita Wahyudi. Wanita yang dipercaya sebagai koordinator kesehatan satwa-satwa di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) se-Indonesia ini dengan lugas membahas tentang pengaruh terabaikannya kesejahteraan satwa terhadap kesehatan satwa itu sendiri dan manusia yang memeliharanya.

Materi-materi yang diberikan kepada peserta dalam workshop ini terbilang lengkap dan diberikan selama tiga hari. Disela-sela workshop ini tidak ketinggalan fasilitator P-WEC memberikan ice breaking untuk sekedar menyegarkan pikiran, ciri khas P-WEC. Selain itu fasilitator P-WEC juga diberi waktu untuk menyuguhkan beberapa permainan Team Work Building.

Pengetahuan ringkas yang juga dibagi dalam workshop ini adalah bagaimana melakukan pengujian singkat tentang pemenuhan standard kesejahteraan satwa suatu lembaga konservasi. Pengujian yang disingkat ZEQAP ini cukup penting sebagai dasar untuk memutuskan apakah suatu lembaga konservasi sudah merawat satwanya dengan tepat dan benar atau belum. Pengujian secara kuantitatif ini untuk mengantisipasi ikutnya emosi dalam menilai. drh. BQ. Erni menuturkan bahwa seringkali rasa kasihan yang berlebih ikut terlibat dalam menilai seekor satwa sudah dirawat dengan sejahtera atau belum. Dari pengujian ini diharapkan akan didapatkan data yang objektif, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Tidak ketinggalan, selain pemberian materi, dalam workshop ini juga dilakukan praktik pelaksanaan ZEQAP. Rombongan peserta workshop ini melakukan praktik pengujian di tiga tempat yang berbeda.

Workshop ini menjadi istimewa atas kehadiran Bpk. Sumarto, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur. Bukan hanya sekedar datang untuk membuka kegiatan saja, pria paruh baya ini bahkan meminta panitia untuk mengakuinya sebagai peserta. Tidak segan-segan beliau berbaur bersama anak buahnya. (Atik).