Bulletin HIJAU Edisi 5
Media Informasi Petungsewu Wildlife Education Center
Daftar Isi
- Belajar Mengenal Habitat Satwa
- Liburan yang Menyenangkan dengan Pengamatan Burung
- Perang Melawan Plastik
- Satwa Liar Bukanlah Hewan Peliharaan
- Kukang Satwa Lucu yang Rentan Keberadaanya
Belajar Mengenal Habitat Satwa
Liburan yang Menyenangkan dengan Pengamatan Burung
Tak seperti biasanya minggu pagi, tepatnya 17 Februari 2008, di P-WEC sudah ramai dengan anak-anak SD. Mereka adalah siswa-siswi dari SDN Karang Besuki I dan SDN Kucur III. Kedatangan mereka kali ini tidak untuk bermain, tetapi untuk pengamatan burung di desa sekitar P-WEC. Suasana makin ceria saat pembagian kelompok dan masing- masing kelompok diberi buku panduan burung dan teropong binokuler, dan tentu saja mereka di-dampingi oleh kakak-kakak fasilitator dari P-WEC.
Selama pengamatan menyusuri jalan desa, mereka harus tenang tetapi tetap waspada untuk mengamati pohon-pohon di sekitar siapa tahu ada burung yang bertengger di sana. Saat ada burung langsung mengambil binokuler untuk diamati sejelas mungkin, mulai dari warna, paruh, sayap, ekor, dan sebisa mungkin mengingat bentuknya. Jika belum tahu namanya baru dicari di buku panduan burung.
Tiba-tiba terdengar suara “cekak-cekak...", anak-anak langsung kaget dan mengarahkan pandangan menuju sumber suara. Ternyata ada burung berwarna biru sedang melintas di antara pepohonan. Kontan salah satu siswa bertanya, “burung apa itu kak?". Kemudian bersama-sama mencari di buku panduan. Semua senang saat tahu ternyata nama burung itu adalah Cekakak Gunung.
Selama kegiatan beberapa jenis burung yang ditemui adalah cekakak gunung, burung gereja, bondol jawa, burung madu, burung kaca mata dan lain-lain. Selain itu juga ditemukan beberapa jenis serangga seperti laba-laba, kupu-kupu, belalang dan lain-lain. Setelah kegiatan pengamatan semuanya didiskusikan bersama.
Beberapa guru pendamping menyatakan puas anak didiknya mampu belajar dan berinteraksi dengan alam melalui kegiatan Pengamatan Burung ini. Semoga kegiatan ini dapat terus dilakukan untuk menumbuhkan kecintaan kita terhadap satwa liar dan habitatnya. (Irul)
Perang Melawan Plastik
Tahukah Anda kalau plastik itu berbahaya…? Karena dalam plastik ada kandungan bahan kimia yang beracun dan dapat membunuh semua makhluk hidup bahkan manusia.
KembaliPercayakah Anda dengan kenyataan ini ?
Sebagian besar bahan pembuat plastik adalah logam-logam berat seperti cadmium, timbal, merkuri, dioksin dan PCBs. Bahan ini jika masuk ke dalam tubuh manusia akan berikatan dengan sel lemak dan akhirnya menyebabkan kanker.
Di kehidupan modern plastik sudah jadi seperti gaya hidup. Menurut penelitian, setiap tahun di seluruh dunia kurang lebih 250 miliar pons bahan plastik mentah diolah untuk menghasilkan berbagai produk kebutuhan manusia mulai mobil, komputer, berbagai kemasan plastik lainnya.
Selain berbahaya bagi manusia, plastik juga berbahaya bagi satwa. Seiring dengan pertumbuhan industri penghasil plastik ternyata berimbas dengan semakin banyak pula satwa yang terancam mati karena plastik. Dari sekian banyak satwa, ternyata burung dan satwa laut yang paling banyak terkena imbasnya. Kenapa demikian, hal ini diakibatkan kecenderungan orang yang membuang sampah di sungai. Seperti penelitian berikut, di lautan pasifik jumlah sampah plastik yang mengambang di permukaan laut 6X lebih banyak dibandingkan plankton yang seharusnya hidup diperairan. Jadi tidak mengherankan jika banyak satwa laut dan burung yang mendapat makanan dari laut mati tersedak oleh plastik.
KembaliBerikut adalah beberapa bukti :
- Bangkai burung Albatros di daerah Kure Atoll, lautan Pasifik Utara. Diprediksikan burung ini mati karena banyak mengkonsumsi sampah plastik. (Captain Charles Moore, Algalita, Marine Research Foundation)
- Gambar penyinaran sinar X pada penyu. Dari gambar ini diperlihatkan adanya balon plastik dan sarung tangan plastik disaluran pencernaan penyu. (Source: Mindfully.org/Naples Daily News)
- Anjing laut yang lehernya terjerat oleh sampah plastik di laut.
- Kumpulan sampah plastik yang mendominasi permukaan air laut yang kebanyakan berasal dari sampah rumah tangga.
Plastik yang terkonsumsi oleh satwa tidak bisa dicerna serta didegradasi. Jika satwa lain memangsa satwa tersebut maka zat toksik akan tertransfer dan terakumulasi di dalam satwa pemangsa. Demikian seterusnya dan akan menjadi siklus yang panjang dalam rantai makanan. Oleh karena itu ikan tuna yang dulu menjadi favorit karena mengandung gizi yang tinggi sekarang menjadi tidak aman lagi untuk dikonsumsi.
Penelitian pada Orang Eskimo yang terkenal pengkonsumsi ikan tuna, ditemukan dalam susu yang dihasilkan wanita Eskimo terkandung zat toksik plastik yang berbahaya jika dikonsumsi oleh anak.
Yang perlu diingat plastik sangat sulit didegradasi secara alami dan waktu yang dibutuhkan 50-80 tahun. Sementara itu, menurut penelitian bahwa saat ini ¼ permukaan tanah di bumi ini menjadi akumulator plastik.
Untuk itu, adalah tantangan bagi kita bersama untuk menyelamatkan bumi kita dari kerusakan. Bagaimana caranya? Mulailah mengurangi penggunaan plastik dari sekarang , bijaksanalah dalam memilih barang-barang dari plastik dan gunakan kantong yang dapat dipakai berulang-ulang untuk menggunakan kantong plastik serta jangan lupa ajak keluarga, teman dan tetangga untuk bersama-sama mengurangi penggunaan plastik. (Aye)
Satwa Liar Bukanlah Hewan Peliharaan
Oleh : Drh. Wulan Andayani
Koordinator medis PPS Petungsewu
Saat berkunjung ke kebun binatang, taman safari dan taman rekreasi, kita pasti akan takjub mengamati tingkah laku berbagai jenis satwa yang lucu-lucu, cerdas dan menarik. Begitulah pesona satwa liar Indonesia, namun bagaimanapun juga satwa liar bukanlah hewan peliharaan manusia. Memelihara mereka di rumah kita ternyata mengakibatkan resiko yang tinggi. Pada satwa liar terdapat potensi berbagai penyakit yang bisa ditularkan kepada kita. Khususnya pada satwa primata, jika mereka menjelang dewasa maka apa saja yang ada di dekatnya akan dirusak. Sebenarnya bukan kebiasaan mereka merusak benda yang ada disekitarnya, tetapi karena lingkungan rumah kita memang bukanlah lingkungan yang cocok untuk perkembangan umur dan socio behaviour mereka. Kalaupun ada sebagian dari kita ada yang menganggap satwa liar jinak dan dapat menuruti apa saja yang kita perintahkan maka jangan heran bila tiba-tiba mereka dapat bertindak liar dan tidak dapat dikendalikan lagi.
Jika ditinjau dari sisi medis, hampir semua satwa liar khususnya primata memiliki berbagi penyakit zoonosis, yang dapat menular kepada manusia dan sebaliknya. Keadaan tersebut disebabkan karena secara genetik primata memiliki gen yang hampir sama dengan manusia. Mulai dari penyakit akibat infeksi bakteri, infestasi parasit, jamur, virus dan sebagainya yang terdapat pada tubuh satwa liar khususnya primata dapat berpotensi untuk ditularkan kepada manusia. Beberapa penyakit bahkan lebih serius seperti hepatitis B, herpes, salmonelosis, tuberculosis, monkey pox (cacar monyet) dan penyakit zoonosis lainnya. Dari 90% kasus herpes B dilaporkan menyebabkan encephalomyelitis (kerusakan pada otak). Penularan zoonosis ini dapat terjadi akibat adanya kontak langsung, berulang dan tidak terlindungi antara manusia dan primata.
Masih segar diingatan kita tentang wabah flu burung/AI (Avian influenza) yang disebabkan oleh virus H5N1 dan menyebabkan kematian di Hongkong dan Cina. Fenomena tersebut terjadi akibat adanya mutasi virus yang sebelumnya tidak menginfeksi manusia, namun akhirnya dapat menyerang manusia. Virus hasil mutasi tersebut diduga memiliki struktur baru yang dapat menempel pada reseptor sel manusia lalu melanjutkan proses replikasi dalam sel manusia. Sebelum tahun 2003, para ahli mengutarakan bahwa virus flu burung hanya dapat menular ke manusia bila terjadi pertukaran materi genetik dalam (intermediate host) biasanya babi. Namun pada kasus-kasus yang terjadi sejak 2003, diduga bahwa H5N1 saat ini mampu menular langsung dari burung ke manusia.
Di lembaga konservasi seperti Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Petungsewu Malang, telah diterapkan bahwa setiap petugas dan staf yang secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan satwa maupun spesimennya harus diambil serum darahnya dan pemeriksaan X-ray secara periodik. Kegiatan tersebut bertujuan untuk penelusuran balik (trace back) mengenai keadaan kesehatan petugas dan staf di PPS Petungsewu.
Ada sekitar 408 jenis satwa liar yang terancam punah. Pemerintah Indonesia telah mengatur dan melindungi satwa-satwa yang terancam punah berdasarkan Undang-undang No. 5 tahun 1990 dan secara internasional satwa yang terancam punah juga masuk dalam Red data Books dan Red lists yang dikeluarkan oleh the World Conservation Union IUCN, itu merupakan bukti kepedulian akan nasib dan masa depan populasi satwa liar. Penelitian terhadap satwa yang dilindungi hanya diijinkan dalam bentuk pengamatan tingkah laku dan biologi lingkungan. Penelitian medis yang melibatkan mereka sebagai model penyakit manusia tidak diijinkan, akan tetapi bisa dilakukan untuk tujuan perbaikan kondisi kesehatan mereka sendiri masih mungkin dilaksanakan.
Bagaimana? Apakah kita masih yakin untuk memelihara satwa liar sebagai hewan peliharaan di lingkungan rumah kita? Lebih baik lupakan niat yang amat sangat tidak bijaksana tersebut. Banyak hal yang harus kita pertimbangkan, dari sisi kesehatan (medis), tingkah laku (behaviour) dan yang tidak kalah penting dari sisi pelestarian alam (konservasi). Jika kita memelihara satwa liar, secara perlahan-lahan ikut serta merusak alam hijau planet bumi ini. Hutan beserta isinya bukanlah warisan nenek moyang yang harus kita habiskan namun titipan untuk anak cucu yang harus kita jaga kelestariannya. Satwa liar amatlah indah jika di habitatnya sehingga mereka bisa menghiasi alam, berfungsi secara ekologi yang tentunya demi kelangsungan hidup manusia juga.
Kukang Satwa Lucu yang Rentan Keberadaanya
Kukang (Nyticebus caucang) adalah salah satu primata yang tersebar cukup luas, mulai dari Semenanjung Malaya, Sumatera dan pulau di sekitarnya, Kalimantan hingga ke Pulau Natuna. Satwa ini ditemui hingga ketinggian 1.300 mdpl di Gunung Kinabalu, Sabah Malaysia. Kukang memiliki beberapa sub jenis antara lain:
- Nyticebus caucang caucang tersebar di Semenanjung Malaya, hingga penyempitan Kra, dan Sumatera sampai Pulau Natuna.
- Nyticebus caucang managensis, terbatas di Kalimantan,Bangka,Belitung dan Tawi.
Kukang memiliki rambut yang tumbuh sangat lebat dan halus. Warna rambut sangat bervariasi, mulai dari kelabu keputihan, kecoklatan hingga kehitam-hitaman. Pada punggung terdapat garis coklat melintang di bagian belakang tubuh hingga dahi. Garis coklat tersebut bercabang kedasar telinga dan mata. Pada bagian mata rambut coklat ini berbentuk bundar atau oval hingga menyerupai kacamata. Panjang tubuh termasuk kepala sekitar 190-275 mm untuk betina dewasa dan jantan sekitar 300-380 mm. Ekornya pendek dan melingkar panjangnya antara 10-25 mm. Berat tubuh untuk jantan dan betina dewasa antara 375-900 gram.
Habitat dari satwa ini adalah pada hutan primer dan sekunder, hutan bambu, hutan bakau, kadang-kadang mereka juga ditemukan di daerah perkebunan, terutama perkebunan coklat, walaupun lebih banyak ditemukan di daerah hutan yang masih baik.
Hampir separuh hidupnya kukang memakan buah-buahan berserat sekitar 50%. Selain itu Kukang juga makan berbagai jenis binatang sekitar 30% seperti serangga, moluska, kadal, kadang-kadang juga memakan telur burung dan getah 10%. Mereka juga sering mengkonsumsi biji-bijian dari suku leguminosae (biji polong) termasuk buah atau biji coklat. Untuk menangkap mangsa atau memakan biji atau buah, kaki depan berubah fungsi seperti tangan untuk memegang atau menangkap makanan.
Kehidupan sosial Kukang sangat sedikit sekali diketahui. Dijumpai oleh beberapa peneliti hidup sendiri (soliter) atau membentuk pasangan (monogamous). Masa hamil 17-20 bulan. Primata primitif ini dapat bertahan hidup hingga 20 tahun.
Pergerakan primata ini sangat lamban dengan menggunakan keempat anggota tubuhnya (quadropedal). Untuk berpindah dari dahan ke dahan dengan cara menggantung. Pada saat bergerak di malam hari, kukang jantan menandai dengan air kencingnya pada pohon yang dilalui untuk daerah teritorialnya. Kukang aktif pada malam hati (nocturnal) dan hidup di pohon (arboreal). Pada siang hari tidur pada percabangan pohon atau di rumpun-rumpun bambu tetapi tidak membuat sarang. Cara tidurnya dengan melingkar dengan kepala tersembunyi di antara kedua kakinya.
Suara hewan ini yaitu dengan desisan (mendesis), sering di keluarkan bila merasa terganggu, baik jantan ataupun betina. Pada bayi suara ini sedikit perlahan, terdengar saat akan menyusu.
Keberadaan kukang telah dilindungi berdasarkan Undang-Undang No. 5 tahun 1990, jadi pemanfaatan komersilnya adalah melanggar hukum. Kehilangan habitat dan perburuan satwa untuk diperdagangkan sebagai binatang peliharaan menyebabkan populasi kukang menurun hingga memiliki status vulnerable (rentan). Di beberapa daerah kukang dipercaya sebagai obat tradisional, namun khasiat dari obat tersebut belum teruji secara medis, di jalan lintas Sumatera banyak orang yang menjualnya dipinggir jalan.
Pada sidang CITES tahun 2007, proposal untuk transfer kukang dari apendik II ke apendik I CITES ini diajukan oleh Cambodia(dibaca:Kamboja), dan dengan dukungan dari beberapa negara seperti India, Indonesia, Jerman, Jepang, Laos, Qatar, Thailand, USA dan juga Japan Wildlife Conservation dan SSN akhirnya keputusan bulat di dapat bahwa kukang masuk kedalam apendik I CITES. Semoga dengan masuknya kukang kedalam apendik I CITES perdagangan kukang akan semakin berkurang.