Program Pengembangan Masyarakat
Daftar Isi
Program Guru Bantu di Desa Lereng Timur Gunung Kawi
P-WEC memiliki program baru sepanjang tahun 2008 ini yaitu program Guru Bantu di SDN 3 Kucur. Kenapa Desa Kucur dijadikan salah satu tempat pelaksanaan program terbaru P-WEC yaitu community development?. Desa Kucur merupakan daerah yang memiliki kawasan yang luas dengan jumlah penduduk yang sangat tinggi. Fakta yang didapat banyak sekali generasi muda di daerah ini yang mengalami putus sekolah. Atau bisa dikatakan rata-rata pendidikan tertinggi yang ditempuh anak-anak di Desa Kucur hanya sampai SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama). Sementara itu, jumlah yang menempuh SLTP ternyata juga tidak terlalu banyak.
Begitu kayanya sumberdaya alam dan kurangnya sumberdaya manusia di kawasan ini mendorong P-WEC sebagai satu-satunya lembaga pusat pendidikan informal yang berdiri di kawasan ini memilki tanggung jawab moral untuk mengatasi permasalahan ini. Salah satunya dengan menawarkan diri dengan potensi yang ada untuk mengajar di SDN 3 Kucur.

![]()
Siswa-siswi SDN 3 Kucur menyimak seriuspelajaran yang diberikan oleh guru bantu dari ProFauna
SDN 3 Kucur merupakan sekolah yang letaknya paling dekat dengan P-WEC. Sementara itu, tenaga pendidik yang terbatas mendorong P-WEC berperan serta untuk menyumbangkan diri sebagai tenaga bantu mengajar di SD ini. Selain P-WEC sendiri, P-WEC juga merangkul ProFauna Internasional, ProFauna Indonesia dan PPS (Pusat Penyelamatan Satwa) Petungsewu untuk berperan serta dalam program ini. Kali ini, P-WEC menawarkan 2 (dua) konsep untuk program ini yaitu menawarkan tenaga bantu untuk mengajar materi pelajaran yang sudah ada dan memberi tambahan baru metode belajar out door yang selama ini dikembangkan P-WEC.
Selain itu P-WEC juga akan memasukkan pengetahuan lingkungan tentang satwa liar agar generasi muda di desa Kucur ini memiliki kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan agar satwa dan keseimbangan ekosistem tetap terjaga.

![]()
Salah satu metode belajar dari P-WEC yang diterapkan di SDN 3 Kucur berupa fun game yang dilakukan secara out door
Dibawah koordinasi Yunita Suci Amalia selaku koordinator program dan staf edukasi di P-WEC akhirnya berhasil menghimpun beberapa sukarelawan untuk mengajar di SDN 3 Kucur. Mereka diantaranya Butet A.S dari ProFauna Internasional, Devi Rameiyanti dan Made Astuti dari ProFauna Indonesia, Bellgis Safita dari PPS Petungsewu dan tim edukasi dari P-WEC. Menjadi kebanggaan dan kesenangan tersendiri bagi sukarelawan untuk dapat mengajar di daerah terpencil di Kabupaten Malang ini. Meskipun sempat beberapa hari dalam bulan Pebruari jalan akses menuju SD ini rusak akibat longsor.
Respon anak-anak SDN 3 Kucur dan beberapa guru sangat baik dan kooperatif. Selama ini karena keterbatasan fasilitas pendidikan, mereka merasa pesimis untuk terus belajar. Dengan kedatangan guru-guru bantu ini, terlihat sekali mereka sangat antusias untuk belajar kembali. Hal ini dikarenakan adanya materi –materi pelajaran baru serta pola pengemasan metode belajar baru yang dibawa oleh guru-guru bantu ini. Sehingga mereka merasa tidak bosan dan mampu mengembalikan keoptimisan anak SDN 3 Kucur untuk terus belajar.
Kegiatan ini akan terus berjalan selama setahun ini. Bagi teman-teman atau siapapun yang ingin ikut membantu program ini dapat menyumbangkan koleksi buku pelajaran, buku cerita atau apapun untuk memperlancar kegiatan belajar anak-anak desa di lereng sebelah timur gunung kawi ini. Informasi lebih lanjut bisa menghubungi P-WEC.(Aye).
Jalan Satwa
Nuansa alam dan satwa liar bukan hanya ada di dalam kawasan P-WEC, namun juga di desa yang ada di sekitar P-WEC. Masyarakat Dusun Sumberbendo dan P-WEC memberi nama jalan-jalan di desa mereka dengan nama satwa. Ada nama jalan Elang, Gajah, Rusa, dll. Nama-nama satwa yang diabadikan menjadi nama jalan ini melengkapi suasana ‘alami” yang ada di Dusun Sumberbendo. Masyarakat dan P-WEC bergotong royong memasang papan nama jalan satwa tersebut.
Menghijaukan Lereng Gunung Kawi
Akhir-akhir ini tentu kita sering mendengar bencana alam terjadi di negeri kita tercinta Indonesia. Tanah longsor di Ngawi dan Situbondo, banjir di beberapa kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah, hingga kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan yang tentunya sangat merugikan masyarakat. Atau bahkan ancaman terhadap bumi kita akibat pemanasan global yang bukan hanya berdampak kepada manusia saja tetapi juga terhadap kelestarian satwa liar. Kita seringkali menyalahkan alam sebagai sumber malapetaka namun kita tidak menyadari bahwa kerusakan alam tersebut adalah oleh ulah diri kita, manusia. Kita sangat rajin melakukan penebangan dan pembakaran hutan yang dapat mengakibatkan hutan kita semakin sempit.
Seiring dengan kondisi alam yang semakin tidak stabil dan bumi yang semakin panas, P-WEC memprakarsai untuk berbuat secara nyata guna menyelamatkan bumi ini dari kehancuran. Pada tanggal 3 Pebruari 2008 lalu kami melakukan kegiatan penghijauan.
Area penghijauan kami bertempat di Lereng Gunung Kawi, tepatnya di Bon Keke. Sebuah areal pinggir hutan yang telah berubah menjadi tegalan (ladang) milik warga desa. Lokasi ini masuk Pedukuhan Sumberbendo, Desa Kucur, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Jaraknya sekitar 1,5 kilometer atau kurang lebih 20 menit waktu tempuhnya dari P-WEC. Areal ini memiliki kemiringan sekitar 45 derajat, dan seringkali jika musim penghujan terjadi longsor.
Dalam kegiatan penghijauan ini banyak sekali pohon yang telah kita tanam. Pohon-pohon penghijauan ini diperoleh dari sumbangan berbagai pihak selain dari staff dan Anggota ProFauna Indonesia dan P-WEC, juga dari Perhutani Malang wilayah Selokerto, PPS Petungsewu, Ibu Eni di Klaseman, Drh. Pandu dan MTs Wahid Hasyim Desa Kucur. Sebanyak 485 pohon dari berbagai jenis seperti flamboyan, aren, nangka, salam dan lain sebagainya.
Peserta yang mengikuti kegiatan penghijauan ini kurang lebih seratus orang. Mereka terdiri dari berbagai kalangan anggota masyarakat dan organisasi. Baik yang sudah tua, dewasa hingga anak-anak sekolah, semuanya ikut serta dalam kegiatan ini. Mereka berasal dari staff dan anggota ProFauna Indonesia, staff dan karyawan P-WEC, perangkat desa beserta warga Dusun Sumberbendo dan Desa Kucur, anggota Fauna Club SMA Laboratorium Malang, siswa-siswi MTs. Wahid Hasyim Desa Kucur, Karang Taruna Sumberbendo dan Klaseman serta keluarga Bapak Rosek Nursahid. Semua tumpah ruah untuk ikut serta melakukan penghijauan di Bon Keke. Semuanya memiliki tekad yang kuat untuk bersama-sama menyelamatkan bumi ini. Hutan hijau dan lebat bukan hanya dapat mencegah erosi ataupun banjir tapi bisa juga untuk tempat hidup satwa liar.
Peserta sangat antusias dengan penghijauan ini, “Selain dapat membantu mengurangi pemanasan global, kita juga mendapatkan ilmu yang bermanfaat”, seru Fanny, salah satu peserta dari Fauna Club SMA Laboratorium UM.
Setelah penanaman di Bon Keke selesai, dalam perjalan menuju P-WEC penanaman danjutkan di kiri-kanan jalan menuju ke P-WEC.
Setelah kegiatan penanaman dianggap selesai dan ditutup, para peserta kemudian kembali pulang ke rumahnya masing-masing dengan wajah ceria dan penuh harapan semoga kegiatan yang sederhana ini dapat menyetuh hati nurani kita semua untuk bertindak secara bijak untuk menyelamatkan bumi kita ini. Bumi kita hanya satu karena itu mari kita jaga sebaik-baiknya. (Hery)