Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC)

Kabar Terbaru | 23 Mei 2009
Home » Arsip Berita Terkini » Pendidikan Pelestarian Alam Dalam Keluarga

Pendidikan Pelestarian Alam Dalam Keluarga




Pendidikan Pelestarian Alam Dalam KeluargaPendidikan Pelestarian Alam Dalam Keluarga

Bagi P-WEC dan ProFauna Indonesia ajang diskusi selalu menarik untuk diikuti dan sudah kesekian kalinya diadakan. Hari itu tanggal 28 Maret 2009 masih dalam rangkaian Animal week 2009, P-WEC mengadakan kegiatan diskusi ringan yang dikemas dalam sebuah sarasehan pendidikan pelestarian alam. Dari peserta yang hadir diantaranya tokoh pendidikan, aktivis peduli lingkungan, masyarakat umum dan mahasiswa.

Topik yang diperbincangkan mengenai “Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak tentang Pelestarian Alam dan Satwa Liar”. Untuk itu panitia menghadirkan pembicara Bpk. Suryo W. Prawiroadmodjo, pendidik dan pendiri PPLH Seloliman Trawas Jawa Timur, Bpk. Lukman Hakim Firdausi, Pendidik dan Pendiri Sekolah Dolan serta Ibu Donna Widayana, HRD Grup Araya Malang sebagai Ibu Rumah tangga yang menerapkan pendidikan lingkungan dalam keluarganya.

Dihadiri sekitar 70 peserta dari berbagai kalangan, ajang diskusi ini berjalan hangat dan menarik. Dilema tentang kerusakan lingkungan dan imbas buruk yang telah dituai saat ini dan yang akan datang menimbulkan keprihatinan bagi semua pihak. Untuk melakukan recovery problematika ini, kita tidak dapat menyalahkan siapapun tetapi hendaknya kita bisa mulai melakukan action dari diri sendiri dan lingkungan sekitar, baik keluarga maupun perusahaan tempat bekerja.

Pendidikan keluarga dipandang berperan besar untuk menumbuh-kan rasa cinta terhadap alam, lingkungan dan satwa liar terhadap anak. Ketika keluarga sebagai agent of value mampu menanamkan nilai tersebut maka anak juga dapat bersikap lebih respect terhadap alam dan satwa liar.

Jika pendidikan lingkungan ini akan dimulai dari keluarga, otomatis peran orang tua, bapak dan ibu, menjadi sangat penting untuk menyeleksi nilai kebaikan yang akan ditanamkan pada anak. Tentunya bagi anak, lembaga pendidikan formal maupun lingkungan masyarakat sebagai tempat menimba ilmu di luar juga harus men-support agar kecerdasan naturalis dari sekian multiple intelligence yang dibutuhkan manusia dapat terwujud.

Kecerdasan naturalis adalah intelegensi yang dibutuhkan manusia agar memiliki rasa kepeka-an yang tinggi terhadap lingkungan. Kecerdasan ini mutlak dibutuhkan agar alam dan satwaliar tetap lestari.

Berdasarkan pengalaman pembicara dan peserta sarasehan, pengalaman berinteraksi dan mengenal alam dan satwa liar semasa kecil bisa menjadi inspirasi untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap alam. Tentunya hal ini harus disertai dengan pendampingan orangtua untuk menjelaskan dan mengarahkan untuk upaya pelestarian lingkungan.

Dicontohkan bagaimana pengalaman Bpk. Suryo, bahwa semasa kecil beliau diajarkan untuk menyisihkan makanan dari biji-bijian untuk burung-burung liar yang melewati rumahnya. Pengalaman itu menjadikan beliau sampai saat ini selalu terkenang dan menjadi inspirasi untuk lebih cinta terhadap lingkungan sekitar.

Peran keluarga yang lain, dapat berupa aktivitas keseharian orang tua, penggunaan barang atau perka-kas rumah tangga. Seperti pengala-man Ibu Donna saat berbincang dengan putranya. Sesuatu yang tidak ia disadari jika sang anak me-rasa diajarkan hidup hijau olehnya, karena rumah mewahnya tidak menggunakan AC yang CFC-nya sangat berbahaya bagi ozon dan mengakibatkan pemanasan global.

Modernitas dan perkembangan teknologi saat ini menjadikan anak jarang berinteraksi dengan alam. Imbas pembangunan pun menjadikan alam dan hutan semakin jauh dijangkau. Hal inilah yang dikhawatirkan akan membuat empati anak terhadap alam dan lingkungan sekitar menjadi rendah.

Dari sarasehan ini, dapat di-simpulkan bahwa dibutuhkan ba-nyak pengalaman bagi anak untuk berinteraksi dengan alam dan peran orang tua pun sangat penting untuk memberikan pengalaman positif terhadap anak tentang alam. Namun, lembaga formal dan lingkungan masyarakat juga turut andil dalam menjadikan anak sebagai generasi penerus yang lebih arif terhadap alam, satwa dan lingkungan-nya.