Kabar Terbaru | 31 Maret 2010
Home » Arsip Berita Terkini » Siswa SD Laboratorium Belajar tentang Sampah
Siswa SD Laboratorium Belajar tentang Sampah
Sekitar 50 orang siswa SD Laboratorium Malang terlihat asik berkumpul di halaman sekolah hari Selasa 23 Maret lalu. Di tangan mereka memegang cetok, kertas, kardus, stirofoam, kulit buah, daun kering dan beberapa benda lainnya. Apa yang sedang mereka lakukan? Ternyata mereka sedang praktik pembuktian lama bahwa sampah dapat hancur menurut jenisnya. Benda-benda yang mereka pegang rupanya adalah sampah. Di halaman sekolah berlantai tanah dengan ditumbuhi pohon sono kembang ini mereka menggali lubang dengan cetok yang telah mereka bawa.
Siswa siswi ini adalah peserta ekstrakurikuler (ekskul) Lingkungan Hidup. Sekolah dasar yang berada di bilangan Jalan Bogor ini memiliki kepedulian tinggi pada isu lingkungan. "Kami ingin anak-anak memiliki kesadaran untuk peduli lingkungan sejak dini, sebelum akhirnya mereka dewasa dan terjun ke masyarakat", ujar Ibu Ririn, pendamping ekskul ini. Hal ini senada dengan misi P-WEC yang mengembangkan diri di bidang pelestarian alam.
Pada ekskul ini P-WEC dipercaya untuk menjadi pemateri dan pendamping yang pada semester ini difokuskan pada pengolahan sampah. Setiap satu minggu sekali siswa siswi yang duduk di bangku kelas 4 ini akan bertemu tim edukasi P-WEC untuk belajar tentang sampah.
Selesai dengan membuat galian berdiameter sekitar 40 cm dengan kedalaman sekitar 60 cm, mereka mulai memasukkan sampah yang mereka bawa satu per satu ke dalam lubang tersebut. Selanjutnya sampah yang telah dimasukkan tadi dikubur dan ditandai untuk diamati perubahan fisiknya pada satu minggu kedepan.
Demikian aktivitas ekskul yang terbilang baru dilingkungan pendidikan dasar di Kota Malang. Dimana ketika setiap orang mulai peduli dengan isu lingkungan hidup, siswa siswi ini sudah lebih dulu peduli dan melakukan sesuatu dengan bergabung dalam ekskul Lingkungan Hidup.
Sesui dengan jadwal kegiatan, mereka tidak hanya berkegiatan di dalam lingkungan sekolah tetapi juga diluar sekolah untuk lebih memahami permasalahan sampah dengan lebih luas dari berbagai sudut. (At)